Sekolah Daring di Tengah Pandemi Corona

Oleh : DR. Mardety Mardinsyah. Msi

Mardety Mardinsyah

Hari -hari  sekarang ini orang tua murid sibuk mengakses website Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2021,  untuk mendaftarkan anaknya melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya. Proses Penerimaan Peserta Didik Baru  bagi sekolah-sekolah negeri  dilakukan secara online. Situs PPDB dipersiapkan sebagai layanan sistem informasi PPDB Online di setiap daerah provinsi. Petugas yang mengakses laman ini pastilah mereka yang cakap secara digital dan Panitia tentu telah memperhitungkan berbagai aspek digital.  Namun. tak urung terjadi  juga masalah. Kesulitan koneksi    proses PPDB bagi sekolah-sekolah negeri telah terjadi  di Provinsi DKI Jakarta.

 Permasalahan  ini membuat para orang tua mengeluh.  Mereka  mengalami kesulitan untuk mengakses laman pendaftaran. Koneksi  melambat  terjadi di saat-saat yang genting. Banyak keluhan dari pendaftar PPDB Jakarta 2021. Ada  yang mengeluhkan gangguan Interkoneksi dengan Sistem SIDANIRA (hasil dari nilai rapor). Ada yang mengeluhkan  pengajuan akun, gagal dengan pemberitahuan “Perhatian! Data Asal Sekolah tidak valid.” Lahir berbagai pertanyaan: apakah terjadi kegagalan sistem ? Apakah server tidak mampu mengatasi tingginya traffic pendaftaran? atau ada permainan tersembunyi dibalik semuanya ini?.

 Mari kita coba menakar dampak sekolah daring di tengah pandemi Corona.

Penyebaran virus Corona  sangat  cepat dan sangat menakutkan. Virus ini sangat mudah menginfeksi manusia secara massif. Hanya dengan temu muka,  sentuhan fisik seperti salaman dan berada dalam kerumunan, virus  bisa menular ke tubuh manusia. Maka itu untuk mencegah penyebaran corona, social distancing atau jaga jarak dengan teman bahkan juga dengan keluarga harus dilakukan.

Untuk mencegah penularan, sekolah diselenggarakan  dari rumah atau school from home (SFH).  Sekolah daring, telah dipilih pemerintah untuk tetap menjalankan sektor pendidikan. Dalam penerapan kebijakan ini terdapat beberapa masalah yang harus dihadapi. Ada masalah teknis seperti ketersediaan  infrastruktur khususnya infrastruktur teknologi dan aplikasi dan masalah kemampuan guru, siswa dan orang tua untuk  mendukung sistem ini. Anak sekolah daring, semua  menjadi pusing.

Sekolah daring  dilaksanakan  pada semua jenjang pendidikan, seperti Surat Edaran No. 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dalam  Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Salah satu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah siswa belajar dari rumah dengan menggunakan media digital,  yang dilakukan guru lewat media online seperti Whatsapp, Google Meet, Google Form dan jenis lainnya.

Sebelum pandemi, sistem belajar  di negara ini masih konvesional.   Mendukung  pembelajaran hapalan dengan  jam belajar yang panjang.  Anak  terintegrasi dengan sekolah dan  bergaul dengan guru hampir sehari penuh, Senin hingga Jumat. Pembelajaran sarat hapalan ini  dimaksudkan untuk mendorong  siswa sukses dalam Ujian Nasional (UN).  Nilai ujian nasional penentu untuk dapat masuk sekolah pada tingkat berikutnya.  Penerimaan  Peserta Didik Baru (PPDB) didasarkan pada  nilai akhir ujian nasional.

Sejak pandemi Corona, siswa-siswa SD, SMP, SMA tidak lagi   diberi peringkat berdasarkan hasil ujian nasional. Dalam  sekolah  daring, seharus   terjadi  perubahan didaktik, dari menjejali siswa dengan materi, kepada belajar secara mandiri. Anak harus diperkuat dengan kemampuan literasi dan numerasi. Dalam sekolah daring, Pekerjaan rumah (PR)  dan kuis tetap dilakukan untuk mengetahui kompetensi siswa dan  untuk memberi  nilai kepada masing-masing siswa. Penerimaan peserta didik baru  dilakukan dengan sistem zonasi  dengan acuan nilai hasil dari rapor.  

Beberapa siswa  mengaku kesulitan mengikuti cara belajar yang relatif baru ini. Mereka sulit  mengerjakan soal di rumah tanpa pendampingan guru secara fisik ditambah dengan  suasana rumah yang tak kondusif untuk belajar. Para  orang tua mengeluh dengan sistem daring terutama tentang kesulitan  dalam proses penerimaan peserta didik baru, seperti yang diuraikan di awal tulisan ini.

Sekolah daring memerlukan  pendampingan orang tua. Orang tua harus  meluangkan waktu untuk mendampingi anak ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran. Orang tua harus melakukan  pengawasan dengan meminta jadwal proses pembelajaran kepada anak dan  turut melakukan proses pengecekan tugas yang dikerjakan.

Disamping sekolah  daring dengan berbagai permasalahannya, para orang tua juga bingung  mengarahkan pendidikan anaknya sekarang ini, agar dapat menjadi sumber daya manusia yang handal di masa depan.  Banyak orang orang tua bingung dalam mengarahkan anaknya untuk mengambil jurusan di universitas. Mari kita dengar percakapan keluarga Arif.

“ Jurusan apa  sekarang yang bagus di ambil di universitas ?  Jurusan apa yang  bisa membekali anak dengan kemampuan siap kerja “?, tanya pak Arif  ke isterinya yang sehari-sehari berada di kampus, mengajar.

Putra sulung Pak Arif   baru tamat SMA dan  mau melanjutkan studi ke universitas. Bapak – ibu ini  sedang kebingungan mengarahkan anaknya mau ambil jurusan studi di universitas, agar setelah tamat mendapat pekerjaan. Dia khawatir nanti setelah tamat anaknya tidak dapat pekerjaan dan merasa mahsalju (mahasiswa salah jurusan).

Tidak dapat dipungkiri apa yang dihasilkan dunia pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan dunia industri.  Akhirnya banyak pengangguran. Apalagi di era disruption sekarang ini, akan banyak pekerjaan yang akan hilang. Berbagai pekerjaan terdisrupsi. Teknologi telah mengubah cara hidup dan peradaban. “ Bagaimana mengarahkan pendidikan anak sekarang ini, agar dapat menjadi sumber daya manusia yang handal di masa depan” itu menjadi pertanyaan sebagian besar orang tua.  

Perubahan cara hidup, termasuk cara   belajar membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Sekolah  daring menjadi beban bagi para orang tua dan para siswa. Apalagi bila kondisi ekonomi para orang tua siswa terkena dampak pandemi Corona, sistem daring  benar-benar membuat pusing. Apalagi bila kemampuan keluarga untuk mendukung sistem daring ini tidak memadai bagaimana orang tua   mendampingi anaknya  ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran. Maka itu, orang tua juga harus mengupdate diri dengan pengetahuan digital.  Bagi sebagian orang tua, sistem daring  membuat pusing, karena biasanya anak diserahkan saja pada guru di sekolah.

Wajah dunia sedang rapuh, tidak pasti, rumit dan rancu.  Dunia sedang diamuk  ketidakpastian. Dalam ketidakpastian, perangai berbagai  sistem kehidupan  tidak  bisa lagi diandalkan.  Suatu  tindakan atau sebuah bencana dapat   merubah   sistem. Kekuatan prediksi hilang. Dunia pendidikan sebagai bagian dari kehidupan, tentu saja menghadapi kondisi yang sama. Semoga dengan hadirnya Komisi Nasional Pendidikan (KomNasdik) dapat menjadi solusi menghadapi tantangan tersebut.

Mari terus berusaha survive dalam tsunami kehidupan ini, berharap dan terus berdoa agar dunia pulih dari pandemi.

Sekian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *